Pernah terbesit dalam otak gimana rasanya kehilangan dirimu.
Situasi memburuk, sepi, tak lagi indah hidup ini, tak ada teman bicara lagi.
Saat akan pulang kerumah bingung apa yang harus aku lakukan saat dirumah.
Saat akan keluar rumah memang benar dunia luar sungguh indah, penuh tawa dan aku mengikuti arusnya.
Tapi apa yang akan aku lakukan bila pulang kerumah lagi ??
Rasanya sulit menerimanya, masih belum siap rasanya menerima tanggung jawab seperti yang kamu tanggung setiap hari.
Mungkin air di mata ini akan terus mengalir jika sebersit bayangmu terlintas di pikiranku.
Mungkin yang aku lakukan hanyalah menangis, murung, melihat potretmu, memeluknya hingga terlelap berselimut mimpi.
Mungkin sudah tak ada lagi yang peduli, tak ada lagi penuh kasih memanjakanku, tak ada lagi tawa canda bersamamu, tak ada lagi suara halus yang memarahiku.
Mungkin itu semua benar, saat kamu sudah tiada, ataupun kamu sudah tidak disini lagi semua akan terasa berbeda.
Kamu memang tidak lagi cantik, kamu memang tidak lagi muda. Tapi semangat dan pengorbananmu terlihat bahwa kamu sangat gagah.
Mungkin kami berdua memang merepotkan, mungkin kami berdua memang belum dewasa. Tapi dengan caramu membesarkan kami akhirnya aku tahu.
Aku sangat tahu bahwa kamu sebenarnya menikmatinya.
Semoga kisah penuh kesedihan itu masih berada di ujung langit.
Takkan pernah turun hingga aku benar benar siap.
Siap untuk mengemban tugas menggantikanmu.
Untuk saat ini biarkan kami semua tetap berkumpul Ya Allah, jangan pisahkan kami dengannya. Kami sungguh sungguh beribu ribu sungguh masih membutuhkan hangat telapak tangannya.
Untuk seorang wanita yang benar benar sangat kusayang, kucinta dan akan selalu kurindu.
YUDITH MERIATI. Salam cium mama. <3
 |
| Ini mamaku, masih normal kok dia. |
Bram.