Jumat, 23 November 2018

STRESS and DISTRESS

Do you know ?? Aku menjadi stress akhir-akhir ini.

Pekerjaan yang semakin lama bukan semakin terbiasa, malah semakin terasa susah.

Ditambah lagi, aku belum menemukan seseorang yang tepat untuk diajak ngobrol.
Ngobrol disini dalam artian bukan hanya mengeluarkan suara dan kata-kata, tetapi lebih ke dalam arti talking for fun.

No more ketawa ngakak sampai perut keram, no more jokes, no more nongkrong sampe jam 12 malam. Rasanya seperti, "Ahh memang takdirku untuk sendirian kali yaa".

Pulang dari kantor rasanya seperti, "Buat apa pulang ke kontrakkan. Toh disana juga sendiri lagi". Karna si Koko juga jarang ada di kontrakkan. Fyi: Aku ngontrak berdua dengan Koko. Awalnya sih bertiga dengan Pak Eka, tapi karna suatu hal Pak Eka gak ngontrak lagi.

Berangkat ke kantor ?? Itu sama aja, mungkin sedikit lebih karna aku harus menjadi "orang lain" dan bukan diriku sendiri di kantor.

Banyak sih temen-temen yang ada di Surabaya, tapi rasanya susah buat nyamperin mereka. Mungkin mereka punya urusan masing-masing yang gabisa diganggu, yaa aku lebih takut di tolak sih sebenernya.

Ada juga temen-temen dari Jember yang mampir ke kontrakkan untuk singgah karna ada keperluan. Dan aku sangat senaaaaang mereka singgah kesini. Rasanya ada tujuan buat pulang ke kontrakkan, rasanya gak sendirian lagi, meskipun mereka singgah hanya beberapa hari sih.
Dan saat mereka pulang, dalam hati selalu bilang, "yaahh udah pulang, yaahh sendiri lagi".

Surabaya bagiku sudah menjadi lahan stres untukku, dan setelah aku tuai semua, aku kembali ke Jember untuk membuang segala ke-stres-an tersebut.

Seandainya disini aku punya teman ngobrol, mungkin gaakan se-stres ini.

Pada akhirnya, tiap minggu aku pulang ke Jember (yang awalnya 2 minggu sekali). Paling gak disana ada banyak orang yang bisa diajak "ngobrol". Mamaku, adikku, my gf, temen-temen. Ahh aku sayang kalian. Aku juga kangen kalian (dan akan terus selalu), meskipun tiap minggu ketemu tapi rasanya selalu kurang.

Mungkin gini ya rasanya merantau yang benar-benar merantau. Jauh dari siapa pun, sendirian, gaada temen ngobrol, yang ada cuma kerja-kerja-kerja-susah-kerja-kerja-kerja-sendirian-kerja-kerja-kerja-stres-kerja-kerja-kerja-dan kerja~

Bram.

Jumat, 16 November 2018

PARADOX

Di kehidupan ini terdapat banyak sekali “PARADOX”yang bermunculan. Dikarenakan keaktifan otak manusia yang memiliki akal untuk berpikir semaunya, dan seliarnya.

Menurut Wikipedia, Paradox adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis atau apa yang dia anggap benar sebagai landasan kesimpulan.


Salah satu Paradox yang terkenal adalah,

“Jika Tuhan Maha Kuasa, apakah Tuhan bisa menciptakan batu, yang Dia sendiri tidak bisa mengangkatnya ?? Jika jawabannya bisa, berarti Tuhan tidak Maha Kuasa karena Dia tidak mampu untuk mengangkat ciptaan Nya sendiri. Dan jika jawabannya tidak bisa, berarti Tuhan tetap tidak Maha Kuasa karena tidak dapat menciptakan batu tersebut.”


Pertanyaan tersebut biasanya dilontarkan oleh seorang Atheis, yang ditujukan kepada seseorang yang berTuhan untuk membuat seseorang tersebut ragu akan adanya Tuhan.

Menurut saya sendiri jawabannya sedikit mudah. Kita contohkan saja dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia mampu untuk membuat mobil. Apakah manusia mampu untuk mengangkat mobil tersebut ?? jawabannya tidak, kecuali ada alat bantu yaitu dongkrak. Dan apakah manusia dapat mengangkat dongkrak ?? jawabannya adalah mampu, dikarenakan dongkrak diciptakan untuk dapat dibawa kemana mana dan mudah untuk digunakan.

Jadi kesimpulannya, manusia dapat membuat benda yang dia sendiri tidak dapat mengangkatnya (mobil), dan manusia juga dapat membuat benda yang dia sendiri dapat mengangkatnya (dongkrak) untuk membantu mengangkat benda yang manusia tidak dapat mengangkatnya dengan sendirinya.

Dan ini adalah contoh dari manusia. Dan bagaimana dengan Tuhan ??

Jawabannya mungkin sedikit sama. Tuhan dapat menciptakan batu yang Dia tidak dapat mengangkatnya, sekaligus Tuhan juga dapat menciptakan “alat bantu” yang “ringan” untuk mengangkat batu tersebut.

Jadi Tuhan tetaplah Tuhan Yang Maha Kuasa, dimana Tuhan dapat menciptakan sesuatu yang “berat” tersebut sekaligus menciptakan sesuatu yang “ringan”untuk mengangkat sesuatu yang “berat” tersebut.

Manusia dapat membuat pertanyaan pertanyaan yang susah untuk dijawab. Tetapi manusia juga haruslah mampu untuk membuat jawaban atas pertanyaan tersebut. Dikarenakan manusia dibekali akal yang sehat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bram.



Senin, 05 November 2018

JAGALAH YANG MASIH TERSISA

Semua akan hilang, sirna pada waktunya.

Yang ada hanya sesal, bayangan akan sosok yang hilang.

Seandainya ku habiskan waktu lebih banyak dengannya.

Seandainya ku lebih menghargainya.

Seandainya ku tidak menyiakannya.

Entahlah…

Banyak sedikit, pasti kamu akan sirna.

Itu hanya masalah waktu.

Entahlah…

Aku bisa apa ?? Melawan Pemilik Waktu ?? Melawan Pencipta Hadirmu ?? Aku tidak sekuat itu.

Yang ku lakukan saat ini,,,,,,

Hanya,,,

Menjaga yang masih tersisa.

Rabu, 13 Juni 2018

AKU = INTROVERT

Aku sebenarnya adalah seorang introvert. Tetapi banyak diantara orang terdekatku mengira aku adalah extrovert.

Aku sangat menikmati kesunyian malam. Aku sangat menikmati diam di kamar sendiri.
Aku sangat menikmati malam minggu dengan membaca buku di kamar atau menonton film di laptop, tanpa perlu keluar rumah.

Tetapi pergaulan membuatku meninggalkan kenikmatan itu.
Aku yang dulunya nge-band, diharuskan berada di keramaian, hingar-bingar kehidupan, suara sound sistem yang me-mepak-kan telinga, orang-orang yang menyapa dan disapa, dan segala ke-sok-sibuk-kan anak band lainnya.

Aku membuat diriku menjadi bukan aku yang sebenarnya. Maka dari itu banyak orang terdekatku yang mengira aku adalah extrovert.

Aku yang sebenarnya sangat menghindari keramaian.
Aku yang sebenarnya sangat malas untuk bersosialisasi.
Aku yang sebenarnya sangat malas untuk menyapa jika bertemu seseorang yang ku kenal di jalan.
Aku yang sebenarnya sangat malas untuk berbicara basa-basi.

Kenapa harus tenggelam di keramaian jika di dalam kamar sudah menyenangkan ??
Kenapa harus bersosialisasi jika sendiri lebih membuat nyaman ??
Kenapa harus menyapa jika bertemu di jalan, padahal sebenarnya sapaan tersebut akan membuat kita berbasa-basi ?? "Hey dari mana ?? Sama siapa ?? Ngapain disini ??" Pertanyaan bodoh yang sebenarnya si pe-nanya gak peduli-peduli amat akan jawabannya.

Jadi intinya, aku adalah seorang introvert. Dan aku sangat menikmati hal itu.

Bram.

Kamis, 19 April 2018

Ma-nu-sia

Jangan…

Me-manusia-kan…

Manusia…

Yang tidak…

Me-manusia-kan…

Sesamanya…

°

Jangan…

Me-manusia-kan…

Manusia…

Yang tidak…

Memiliki…

Hati…

Seorang manusia…

°

Jangan…

Me-manusia-kan…

Manusia…

Yang tidak…

Ber-peri-ke-ma-nu-sia-an…

                                                          Bram.

MANUSIA

Anjing ??

Babi ??

Monyet ??

Jangan…
Jangan libatkan nama mereka…

Spesies mereka lebih baik dari spesiesmu…

Mereka tidak merusak, hanya meninggalkan jejak…
Mereka tidak rakus, hanya makan sekenyangnya…

Mereka tidak membunuh, kecuali jika terdesak…
Mereka tidak serakah, hanya mempertahankan wilayah.

Bandingkan denganmu…

Perusak alam, si rakus yang tidak pernah kenyang…

Pembunuh keji, membunuh ratusan spesies hanya untuk kepuasan…

Makhluk serakah, berambisi untuk menguasai seluruh dunia…

KAU…

MENJIJIKKAN…

DASAR KAU…

MANUSIA…

                                                          Bram.

Sabtu, 14 April 2018

Jika Ku Lelah

Jika ku lelah kuingin telentang bersamamu, beralaskan rumput hijau, dan berpayungkan langit malam.

Menceritakan semua keluh kesahku. Dengan bahasa agak rancu, dengan cerita yang tak menentu.
Biarkanlah, ku hanya ingin kau mendengarnya saja.

Jika ku lelah kuingin memelukmu. Mencium aroma tubuhmu, merasakan detak jantungmu, dan biarlah berlangsung setidaknya satu sampai dua jam.

Tidak perlu bersuara. Tidak perlu berkata-kata. Tidak perlu mengelus rambutku. Diamlah sebentar.
Biarkanlah, ku hanya ingin kau membagi hangatnya tubuhmu.

Jika ku lelah kuingin mencium aroma masakanmu, menikmatinya, dan merasakannya.

Tidak perlu menyuapiku. Kau hanya perlu duduk disampingku, menemaniku makan hingga butiran yang terakhir.
Biarkanlah jika terlalu asin ataupun terlalu hambar, aku hanya suka masakanmu.

Bram.