Kamis, 19 April 2018

Ma-nu-sia

Jangan…

Me-manusia-kan…

Manusia…

Yang tidak…

Me-manusia-kan…

Sesamanya…

°

Jangan…

Me-manusia-kan…

Manusia…

Yang tidak…

Memiliki…

Hati…

Seorang manusia…

°

Jangan…

Me-manusia-kan…

Manusia…

Yang tidak…

Ber-peri-ke-ma-nu-sia-an…

                                                          Bram.

MANUSIA

Anjing ??

Babi ??

Monyet ??

Jangan…
Jangan libatkan nama mereka…

Spesies mereka lebih baik dari spesiesmu…

Mereka tidak merusak, hanya meninggalkan jejak…
Mereka tidak rakus, hanya makan sekenyangnya…

Mereka tidak membunuh, kecuali jika terdesak…
Mereka tidak serakah, hanya mempertahankan wilayah.

Bandingkan denganmu…

Perusak alam, si rakus yang tidak pernah kenyang…

Pembunuh keji, membunuh ratusan spesies hanya untuk kepuasan…

Makhluk serakah, berambisi untuk menguasai seluruh dunia…

KAU…

MENJIJIKKAN…

DASAR KAU…

MANUSIA…

                                                          Bram.

Sabtu, 14 April 2018

Jika Ku Lelah

Jika ku lelah kuingin telentang bersamamu, beralaskan rumput hijau, dan berpayungkan langit malam.

Menceritakan semua keluh kesahku. Dengan bahasa agak rancu, dengan cerita yang tak menentu.
Biarkanlah, ku hanya ingin kau mendengarnya saja.

Jika ku lelah kuingin memelukmu. Mencium aroma tubuhmu, merasakan detak jantungmu, dan biarlah berlangsung setidaknya satu sampai dua jam.

Tidak perlu bersuara. Tidak perlu berkata-kata. Tidak perlu mengelus rambutku. Diamlah sebentar.
Biarkanlah, ku hanya ingin kau membagi hangatnya tubuhmu.

Jika ku lelah kuingin mencium aroma masakanmu, menikmatinya, dan merasakannya.

Tidak perlu menyuapiku. Kau hanya perlu duduk disampingku, menemaniku makan hingga butiran yang terakhir.
Biarkanlah jika terlalu asin ataupun terlalu hambar, aku hanya suka masakanmu.

Bram.

Kamis, 05 April 2018

Kampungku Tidak Ramah Dengan Hewan Peliharaan

Jadi gini, sebelumnya penulis akan menjelaskan bahwa penulis memiliki sekitar 15 kucing peliharaan.

Berawal dari 1 ekor yang dibawakan oleh ayah penulis, hingga akhirnya berkembang biak menjadi 15 ekor.

Keluarga penulis, dari mama, ayah, adik hingga penulis sangat menyayangi kucing-kucing ini.

Di kampung penulis, ada beberapa rumah yang juga memiliki hewan peliharaan, khususnya kucing dan anjing.

Yaaa, bisa dibilang hidup kita (para majikan dan para hewan peliharaan) sangatlah tentram, tidak ada gangguan, dan sangatlah menikmati berdampingan dengan hewan peliharaan masing-masing.

Sampai suatu hari, mama penulis dikejutkan dengan informasi dari seseorang bahwa ada salah satu atau mungkin beberapa kucing milik penulis, yang akan dibuang oleh Om Pong (sebut saja begitu) tetapi entah karna apa hal tersebut tidak jadi dilakukan.

Penulis yang awalnya akan berangkat ke kampus merasa kaget, shock, marah, ingin meledak. Begitu pula dengan mama penulis.

Singkat cerita, di sore hari mama penulis memang berniat untuk menanyakan sendiri kepada Om Pong. Apakah benar dia akan berbuat seperti itu.

Tidak disangka jawaban si Om Pong seperti menantang, dia membenarkan dan dia merasa hal tersebut adalah sesuatu yang sangatlah benar.

Si Om Pong beralasan bahwa kucing-kucing tersebut merusak rumahnya, antara lain atap rumahnya, gentengnya serta dapurnya.

Mama penulis menanyakan, apakah dia yakin bahwa yang merusak adalah kucing peliharaan penulis. Sedangkan bukan hanya keluarga penulis saja yang memelihara kucing. Jika memang ada bukti, mama penulis siap untuk membayar ganti rugi.

Si Om Pong seperti tidak bisa menjawab, dia beralasan macam-macam dan meyakinkan bahwa kucing yang merusak tersebut adalah kucing peliharaan penulis.

Penulis yang geram, ingin memaki si Om Pong, tapi niatan itu sirna karna penulis sadar bahwa si Om Pong masihlah tetangga penulis.

Tetapi saat berbincang dengan mama penulis, si Om Pong ini memakai nada tinggi dan tidak ada sopannya sama sekali terhadap mama penulis. Padahal umur si Om Pong sangatlah jauh dibawah umur mama penulis.

Akhirnya kesabaran penulis sampailah pada puncaknya. Saat si Om Pong melakukan pembelaan yang menurutnya benar, penulis langsung menyanggahnya dan itu membuat si Om Pong sedikit marah.

Si Om Pong sempat menyuruh penulis diam (mungkin dia sedikit meremehkan penulis yang dianggapnya masih kecil) tetapi si penulis tidak menurut, karna penulis juga memiliki hak untuk berbicara disini.

Mama penulis menjelaskan kepada si Om Pong bahwa penulis ini adalah perwakilan dari ayah penulis, yang sedang dinas di luar kota. Dan akhirnya si Om Pong diam.

Mama penulis dan si Om Pong melanjutkan debat mereka yang tidak ada ujungnya dan tidak ada solusinya. Karna di kedua belah pihak merasa merekalah yang paling benar.

Mama penulis menanyakan akan dibuang kemana kucing-kucing tersebut ?? Si Om Pong menjawab akan dibuang ke pasar.
Kemudian penulis menanyakan apakah ada jaminan bahwa di pasar kucing-kucing tersebut akan mendapatkan makanan ?? Hidup sehat ?? Dan tidak disakiti atau didholimi ??

Si Om Pong menyatakan sekaligus menanyakan dengan percaya diri, pastilah dapat makan, terus siapa yang mau menyakiti ?? Gaada.

Langsung saja mama penulis serta penulis jawab, Yaa orang seperti anda. Yang tega membuang kucing peliharaan ke pasar. Si Om Pong langsung diam seribu bahasa. Haa- haa- lucu.

Di akhir kata mama penulis mengutarakan jika ada sesuatu yang merugikan, ada kata yang salah diucap, maka mama penulis meminta maaf.

Si Om Pong tidak mempermasalahkan hal tersebut (seingat penulis si Om Pong tidak meminta maaf juga) tetapi si Om Pong mempermasalahkan si penulis yang menyanggah beberapa pernyataan si Om Pong.

Akhirnya si penulis menjawab, "Kenapa memang sama omonganku ?? Aku disini sebagai perwakilan mamaku, aku disini sebagai perwakilan ayahku. Aku yakin ayahku juga akan melakukan hal yang sama".
Dan itu membuat si Om Pong diam mati kutu.

Pada akhirnya si penulis merasa muak melihat muka si Om Pong, dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, karna penulis tidak ingin menjabat tangan si Om Pong saat dia akan pamit pulang.

Esok harinya penulis mendengar informasi lain, bahwa si Om Pong akan kembali dan membawa serta beberapa temannya, dimana beberapa temannya tersebut adalah orang-orang yang di-tua-kan di kampung penulis. Sepertinya si Om Pong merasa dipermalukan oleh penulis yang dianggapnya masih kecil. Sepertinya si Om Pong tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketawa dikit boleh ?? Haa- haa-

Informasi tersebut juga menyebutkan bahwa si Om Pong dan beberapa temannya akan membuang kucing-kucing yang hanya lewat di depan mereka. Mereka sungguh tidak dewasa.

Informasi lainnya menyebutkan bahwa, setiap malam si Om Pong dan beberapa temannya membawa senapan angin yang tujuannya adalah menembak anjing liar atau bahkan kucing lewat (??)

Pertanyaannya disini adalah:

1. Apakah dibenarkan membuang/ menghilangkan/ mengambil/ bahkan membunuh hewan peliharaan yang sudah jelas ada pemiliknya, tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada pemiliknya ??

2. Apakah hal tersebut sama dengan mencuri, karna hal tersebut seakan mengambil atau bahkan menghilangkan sesuatu yang bukan haknya ??

3. Apakah salah jika penulis marah karna mama penulis diremehkan dan tidak dihormati ??

4. Apakah salah jika penulis marah karna haknya (kucing-kucingnya) akan diambil atau dibuang ??

5. Apakah kalian akan melakukan hal yang sama seperti penulis jika mengalami kejadian tersebut ??

Penulis hanya ingin menikmati hidup tenang tanpa ada gangguan sama sekali. Penulis yakin semua orang pun begitu.

Penulis tidak ingin mama penulis diremehkan bahkan dibentak. Bahkan oleh Raja Setan-pun. Penulis yakin semua orang pun begitu.

Penulis hanya ingin hak-haknya dihormati tanpa ada yang berniatan untuk membuang/ menghilangkan/ mengambil/ bahkan membunuh hak-haknya tersebut.

Penulis percaya bahwa perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan, begitu pun sebaliknya.
Penulis juga percaya akan adanya karma baik dan karma buruk.

Penulis serta keluarga penulis hanyalah perantara dari Pemilik Semesta, yang menjaga kucing-kucing ini agar tidak kelaparan, sehat, dan baik-baik saja.

Penulis serta keluarga penulis hanya bisa menjaga kucing-kucing ini di dalam rumah dan sekitar rumah saja. Tetapi di luar itu, penulis menyerahkan semuanya kepada Pemilik Semesta, Pemilik Hidup dan Mati.

Semoga yang tidak diinginkan tidak terjadi, dan semoga yang diinginkan segera dikabulkan. Aamiin aamiin aamiin.

Bram.

Rabu, 04 April 2018

Membuang Kucing di Pasar ??

Banyak diantara kita, orang-orang yang risih akan keberadaan kucing.

Mereka beralasan bahwa kucing adalah hewan kotor, suka merusak atap rumah, suka mencuri, dan lain sebagainya. Padahal tidak selalu.

Entah dengan alasan apapun bukanlah solusi yang tepat jika membuang kucing-kucing tersebut di pasar, apalagi kucing tersebut ada pemiliknya.

Orang-orang berpikir jika pasar merupakan tempat terbaik untuk membuang kucing. Orang-orang juga berpikir bahwa di pasar akan ada banyak makanan.

Padahal kenyataannya, di pasar adalah tempat yang kotor dengan makanan yang tidak layak. Akibatnya kucing malah jadi semakin penyakitan.

Pernah melihat kucing di pasar ??
Apakah mereka terlihat baik-baik saja ??
Apakah mereka terlihat sehat ??
Apakah mereka terlihat bersih ??
Tentu saja jawabnya TIDAK.

Mungkin bagi orang-orang yang tidak menyukainya, membuang kucing yang menurut mereka mengganggu adalah solusi yang terbaik.

Tetapi dibandingkan dengan menyelesaikan-masalah-dengan-membuang bukannya lebih baik kalau kucingnya dirawat terlebih dahulu ??

Dirawat disini bukan berarti harus menjadi pemiliknya. Paling tidak biarkan mereka berlalu lalang di sekitar rumah untuk sementara. Jika ada makanan sisa tidak ada salahnya kan untuk memberikan kepada kucing tersebut ?? Tidak rugi apa-apa kan.

Dan lebih baik lagi jika kucing tersebut diberikan untuk diadopsi kepada orang lain.

Lebih baik berusaha terlebih dahulu daripada menyelesaikan-masalah-dengan-membuang.

Bram.