Lama gak nge-blog, gara gara harga pulsa modem naik. Yang semula 11ribu sekarang malah 12ribu. Ya meskipun naik seribu tapi perbedaannya kerasa banget. *curhat* =.="
Oke lanjut ke topik yang sesuai dengan judul di atas.
Masih ingat suatu ketika seorang teman sedang "menceramahi" seorang teman lainnya dengan nada mengejek. "Le le, mau jadi apa kamu besok. Tiap malem mabok, ngerokok, ngebokep. Mau jadi berandal ya besok besar ??"
Kemudian aku sedikit bergumam dalam hati, "Emang dia siapa ?? Tuhan ??"
Kalo kamu kenal dengan seorang wanita hamil, yang sudah mempunyai 8 anak. 3 diantaranya tuli, 2 buta, 1 mengalami gangguan mental, dan wanita itu sendiri mengidap sifilis, apa kamu akan nyaranin dia untuk menggugurkan kandungannya ??
Kalo kamu menjawab "YA", maka kamu baru saja membunuh salah satu komponis masyhur dunia.
Karena anak yang dikandung itu adalah Ludwig Van Beethoven.
Dan sekarang saatnya kamu memilih seorang pemimpin dunia.
Keputusan kamu sangat berpengaruh besar terhadap siapa pemenangnya.
Berikut fakta mengenai ketiga calon ini:
CALON A: Selalu dihubungkan dengan politisi jahat, sering berkonsultasi dengan astrologi, dan dia mempunya dua istri muda. Selain itu dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol Martini setiap harinya.
CALON B: Dipecat dua kali dari kantornya, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan Narkoba saat masih kuliah, dan minum Whisky setiap sore.
CALON C: Dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, dan tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya.
Siapa diantara ketiga calon ini yang akan kamu pilih ??
Mungkin kamu tidak akan menduga siapa mereka sebenarnya.
CALON A adalah Franklin D. Roosevelt.
CALON B adalah Winston Churchill.
Dan, CALON C adalah Adolph Hitler.
Sekali lagi, sejarah mengajarkan untuk tidak menilai seseorang dari masa lalunya. Kita masih belum tau apa yang sedang dan masih mungkin terjadi di dalam hati seseorang.
Di dalam hatilah perjalanan yang sesungguhnya sedang terjadi.
Selama kita masih belum bisa melihat ke dalam hati seseorang dan belum bisa mengikuti proses proses yang masih berlangsung di dalamnya, maka sebenarnya selama itulah kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghakimi sesama kita.
Untuk saat ini, baik bagi kita untuk membiasakan diri melihat secara imajiner bahwa di dada setiap orang terpampang sebuah kalimat, "TUHAN MASIH BELUM SELESAI DENGAN SAYA"

setuju sekalii braaaaaam
BalasHapusdari dulu yang komen cuma bibeeeehhh aja. =="
BalasHapusAku komen brams ~
BalasHapus